Artikel

FPKS UMSURA Perkuat Peran Perguruan Tinggi dalam Transformasi Pendidikan Digital Menuju Indonesia Emas 2045

  • Di Publikasikan Pada: 12 Jan 2026
  • Oleh: Admin FKIP
  •  31

Fakultas Pendidikan, Komunikasi, dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menyelenggarakan Kuliah Umum bertema “Deep Learning & Transformasi Pendidikan Digital Menuju Indonesia Emas 2045” pada Senin, 12 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung At-Tauhid Lantai 13 Universitas Muhammadiyah Surabaya ini menjadi ruang dialog strategis antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan pendidikan dalam merespons tantangan serta peluang transformasi pendidikan di era digital. Kuliah umum tersebut dihadiri oleh jajaran rektorat, para dekan dan pimpinan fakultas di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surabaya, dosen, serta seluruh mahasiswa FPKS Universitas Muhammadiyah Surabaya. Turut hadir juga Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Timur serta perwakilan Balai Bahasa Jawa Timur, sebagai undangan dalam kegiatan kuliah umum ini.

Rektor UMSURA, Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan merupakan strategi paling fundamental dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari pendidikan sebagai proyek besar peradaban yang menentukan arah masa depan Indonesia. Ia menekankan bahwa pengalaman negara-negara maju menunjukkan keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, berintegritas, dan memiliki daya saing global. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mengambil peran strategis dan tidak hanya menjadi penonton dalam proses perubahan, tetapi turut aktif berkontribusi serta berkolaborasi erat dengan pemerintah

Lebih lanjut, Dr. Mundakir menyampaikan bahwa Umsura berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan deep learning dan transformasi pendidikan digital. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi dengan penguatan nilai, etika, dan makna pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran berbasis teknologi yang maju tetapi minim nilai berpotensi kehilangan arah dan tujuan kemanusiaan. Oleh sebab itu, transformasi digital di lingkungan pendidikan harus tetap berorientasi pada pembentukan karakter, penguatan moral, serta penanaman nilai-nilai kebangsaan dan keislaman sebagai fondasi utama.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., dalam pemaparannya menegaskan komitmen pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini menjalankan tiga agenda strategis secara paralel, yakni penguatan infrastruktur pendidikan, peningkatan kualitas guru, dan penguatan kepemimpinan kepala sekolah. Hingga saat ini, pemerintah telah memperbaiki lebih dari 16 ribu sekolah di berbagai daerah, meskipun masih terdapat hampir 200 ribu sekolah yang membutuhkan perbaikan. Pada tahun 2026, pemerintah menggelontorkan anggaran untuk perbaikan 60 ribu sekolah sebagai bagian dari upaya percepatan peningkatan mutu pendidikan nasional.

Dr. Fajar juga menekankan pentingnya infrastruktur digital sebagai salah satu elemen kunci dalam pendidikan modern. Menurutnya, infrastruktur digital yang memadai mampu mengakselerasi kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Teknologi, tegasnya, harus diposisikan sebagai penguat pendidikan, bukan sebagai pengganti peran guru. Pemerintah, lanjutnya, telah mengembangkan berbagai inovasi, termasuk Aplikasi Rumah Pendidikan yang menyediakan konten pembelajaran hasil produksi Kementerian Pendidikan, serta memperluas bantuan interactive flat panel untuk mendukung pembelajaran interaktif di sekolah.

Dalam aspek pedagogi, Dr. Fajar menegaskan bahwa deep learning bukanlah kurikulum, melainkan metode atau pendekatan pembelajaran yang menekankan kualitas pemahaman peserta didik. Pendekatan ini mendorong keterkaitan antara konsep akademik dengan kehidupan nyata, serta membangun keberanian siswa untuk bertanya, berpikir kritis, dan reflektif. Ia juga menyoroti bahwa salah satu tantangan utama pendidikan nasional adalah kualitas guru, yang tercermin dari capaian literasi dan numerasi siswa SMA/SMK yang masih berada di bawah standar nasional. Oleh karena itu, peningkatan kualifikasi guru melalui pendidikan formal dan sertifikasi PPG menjadi prioritas utama pemerintah.

Selain guru, kepemimpinan kepala sekolah juga dinilai memiliki peran sentral dalam menentukan kualitas pendidikan. Kepala sekolah diharapkan mampu membangun budaya belajar di lingkungan sekolah melalui penguatan professional learning community, memberikan ruang bagi guru untuk terus belajar, serta melakukan monitoring dan evaluasi pembelajaran secara berkelanjutan. Dengan kepemimpinan yang kuat, sekolah diharapkan dapat berkembang menjadi organisasi pembelajar yang adaptif terhadap perubahan.

Melalui kegiatan kuliah umum ini, FPKS UMSURA berharap dapat memperkaya wawasan akademik sivitas akademika sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga terkait dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.